Kamis, 28 Februari 2019

KEUTAMAAN SURAT YASIN DALAM TAFSIR IBNU KASIR

36. YAA SIIN ( 83 ) تَفْسِيرُ سُورَةِ يس Makkiyyah, 83 ayat, kecuali ayat 45 Madaniyyah. Turun sesudah Surat Jin
 قَالَ أَبُو عِيسَى التِّرْمِذِيُّ: حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ وَسُفْيَانُ بْنُ وَكِيع، حَدَّثَنَا حُمَيْدُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الرُّؤاسي، عَنِ الْحَسَنِ بْنِ صَالِحٍ، عَنْ هَارُونَ أَبِي مُحَمَّدٍ، عَنْ مُقَاتِلِ بْنِ حَيَّانَ، عَنْ قَتَادَةَ، عَنْ أَنَسٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "إِنَّ لِكُلِّ شَيْءٍ قَلْبًا، وَقَلْبُ الْقُرْآنِ يس. ومَنْ قَرَأَ يس كَتَبَ اللَّهُ لَهُ بِقِرَاءَتِهَا قِرَاءَةَ الْقُرْآنِ عَشْرَ مَرَّاتٍ"

Abu Isa Imam Turmuzi mengatakan, telah menceritakan kepada kami Qutaibah dan Sufyan ibnu Waki', telah menceritakan kepada kami Humaid ibnu Abdur Rahman Ar-Rawasi, dari Al-Hasan ibnu Saleh, dari Harun alias Abu Muhammad, dari Muqatil ibnu Hayyan, dari Qatadah, dari Anas r.a. yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: Sesungguhnya segala sesuatu itu mempunyai kalbu (inti) dan kalbu Al-Qur’an adalah surat Yasin. Dan barang siapa membaca surat Yasin, maka Allah mencatat baginya karena bacaan surat Yasin itu pahala membaca Al-Qur’an sepuluh kali.

Kemudian Imam Turmuzi mengatakan bahwa hadis ini garib, kami tidak mengenalnya melainkan melalui hadis Humaid ibnu Abdur Rahman. Dan Harun alias Abu Muhammad adalah seorang syekh (guru) yang tidak dikenal.
Dalam hal ini ada sebuah hadis yang diriwayatkan melalui Abu Bakar As-Siddiq, tetapi sanadnya tidak sahih karena daif (lemah).
Diriwayatkan pula melalui Abu Hurairah r.a., tetapi masih diragukan kesahihannya. Hadis Abu Bakar diriwayatkan oleh Al-Hakim At-Turmuzi di dalam kitabnya Nawadirul Usul, sedangkan hadis Abu Hurairah r.a. diriwayatkan oleh Abu Bakar Al-Bazzar. Ia mengatakan:

حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ الْفَضْلِ، حَدَّثَنَا زَيْدُ -هُوَ ابْنُ الْحُبَابِ-حَدَّثَنَا حُميد -هُوَ الْمَكِّيُّ، مَوْلَى آلِ عَلْقَمَةَ-عَنْ عَطَاءٍ -هُوَ ابْنُ أَبِي رَبَاحٍ-عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "إِنَّ لِكُلِّ شَيْءٍ قَلْبًا، وَقَلْبُ الْقُرْآنِ يس

Telah menceritakan kepada kami Abdur Rahman ibnul Fadl, telah menceritakan kepada kami Zaid ibnul Habbab, telah menceritakan kepada kami Humaid Al-Makki maula keluarga Alqamah, dari Ata ibnu Abu Rabah, dari Abu Hurairah r.a. yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: Sesungguhnya segala sesuatu itu mempunyai kalbu, dan kalbu Al-Qur’an adalah surat Yasin Kemudian Abu Bakar Al-Bazzar mengatakan, "Kami tidak mengenal ada seseorang yang meriwayatkannya selain Zaid ibnu Humaid".

 قَالَ الْحَافِظُ أَبُو يَعْلَى: حَدَّثَنَا إِسْحَاقُ بْنُ أَبِي إِسْرَائِيلَ، حَدَّثَنَا حَجَّاجُ بْنُ مُحَمَّدٍ، عَنْ هِشَامِ بْنِ زِيَادٍ، عَنِ الْحَسَنِ قَالَ: سَمِعْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ يَقُولُ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "مَنْ قَرَأَ يس فِي لَيْلَةٍ أَصْبَحَ مَغْفُورًا لَهُ. وَمَنْ قَرَأَ: "حم" الَّتِي فِيهَا الدُّخَانُ أَصْبَحَ مَغْفُورًا لَهُ

Al-Hafiz Abu Ya'la mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ishaq ibnu Abu Israil, telah menceritakan kepada kami Hajjaj ibnu Muhammad, dari Hisyam ibnu Ziad, dari Al-Hasan yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar Abu Hurairah r.a. berkata bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: Barang siapa yang membaca surat Yasin di malam hari, pada keesokan harinya ia diampuni. Dan barang siapa yang membaca Ha Mim yang di dalamnya disebutkan Dukhan (surat Ad-Dukhan), pada pagi harinya diampuni. Sanad hadis ini jayyid (baik).

 قَالَ ابْنُ حِبَّانَ فِي صَحِيحِهِ: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ إِسْحَاقَ بْنِ إِبْرَاهِيمَ -مَوْلَى ثَقِيفٍ-حَدَّثَنَا الْوَلِيدُ بْنُ شُجَاعِ بْنِ الْوَلِيدِ السَّكُونِيُّ، حَدَّثَنَا أَبِي، حَدَّثَنَا زِيَادُ بْنُ خَيْثَمة، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بن جُحَادة، عَنِ الْحَسَنِ، عَنْ جُنْدَب بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "مَنْ قَرَأَ يس فِي لَيْلَةٍ ابْتِغَاءَ وَجْهِ اللَّهِ، غُفِرَ لَهُ

Ibnu Hibban di dalam kitab sahihnya mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ishaq ibnu Ibrahim maula Saqif, telah menceritakan kepada kami Al-Walid ibnu Syuja' ibnul Walid As-Sukuni, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Ziad ibnu Khaisamah, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Jahadah, dari Al-Hasan, dari Jundub ibnu Abdullah r.a. yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: Barang siapa yang membaca surat Yasin di malam hari karena mengharapkan rida Allah Swt., maka diberikan ampunan baginya (dari dosa-dosanya).

 قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا عَارِمٌ، حَدَّثَنَا مُعْتَمِرٌ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ رَجُلٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ مَعْقِلِ بْنِ يَسَار، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: "الْبَقَرَةُ سِنام الْقُرْآنِ وذِرْوَته، نَزَلَ مَعَ كُلِّ آيَةٍ مِنْهَا ثَمَانُونَ مَلَكًا، وَاسْتُخْرِجَتْ {اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ} [الْبَقَرَةِ: 255] مِنْ تَحْتِ الْعَرْشِ فَوُصِلَتْ بِهَا -أَوْ: فَوُصِلَتْ بِسُورَةِ الْبَقَرَةِ-وَيس قَلْبُ الْقُرْآنِ، لَا يَقْرَؤُهَا رَجُلٌ يُرِيدُ اللَّهَ والدار الآخرة، إلا غفر له، واقرؤوها عَلَى مَوْتَاكُمْ". 

Imam Amad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Arim, telah menceritakan kepada kami Mu'tamir, dari ayahnya, dari seorang lelaki, dari ayahnya, dari Ma'qal ibnu Yasar r.a. yang mengatakan bahwa sesungguhnya Rasulullah Saw. pernah bersabda: Al-Baqarah adalah punuk Al-Qur'an dan merupakan puncaknya, diturunkan bersamaan dengan tiap ayatnya sebanyak delapan puluh malaikat, dan ayat yang mengatakan, "Allah tidak ada Tuhan melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus-menerus mengurus (makhluk-Nya) " (Al-Baqarah: 255) dikeluarkan dari bawah Arasy maka aku hubungkan atau aku gabungkan dengan surat Al-Baqarah ayat tersebut. 
Dan Yasin adalah kalbu Al-Qur’an; tidak sekali-kali seseorang membacanya karena mengharapkan pahala Allah dan hari kemudian, melainkan diberikan ampunan baginya, dan bacakanlah surat Yasin buat Orang-orang mati kalian.
Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Imam Nasai di dalam kitab Al-'Yaum wal Lailah melalui Muhammad ibnu Abdul A'la, dari Mu'tamir ibnu Sulaiman dengan sanad yang sama.

 ثُمَّ قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا عَارِمٌ، حَدَّثَنَا ابْنُ الْمُبَارَكِ، حَدَّثَنَا سُلَيْمَانَ التَّيْمِيِّ، عَنْ أَبِي عُثْمَانَ -وَلَيْسَ بِالنَّهْدِيِّ-عَنْ أَبِيهِ، عَنْ مَعْقِل بْنِ يَسَار قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "اقرؤوها عَلَى مَوْتَاكُمْ" -يَعْنِي: يس 

Kemudian Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Arim, telah menceritakan kepada kami Ibnul Mubarak, telah menceritakan kepada kami Sulaiman At-Taimi, dari Abu Usman, tetapi bukan An-Nahdi, dari ayahnya, dari Ma'qal ibnu Yasar r.a. yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: Bacakanlah ia untuk orang-orang mati kalian. Yakni surat Yasin tersebut. Imam Abu Daud dan Imam Nasai di dalam kitab Al-Yaum walLailah-nya —juga Ibnu Majah— telah meriwayatkan­nya melalui hadis Abdullah ibnul Mubakar dengan sanad yang sama, hanya di dalam riwayat Imam Nasai disebutkan dari Abu Usman dari Ma'qal ibnu Yasar r.a. Mengingat banyaknya hadis-hadis yang membicarakan keutamaan surat Yasin ini, maka ada sebagian ulama yang mengatakan bahwa di antara khasiat surat ini ialah tidak sekali-kali ia dibaca dalam suatu urusan yang sulit, melainkan Allah akan memudahkannya. Dan seakan-akan surat Yasin yang dibacakan untuk orang yang sedang menghadapi ajalnya dimaksudkan untuk memohon agar rahmat dan berkah diturunkan baginya, dan dimaksudkan agar rohnya keluar dengan mudah; hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui. Imam Ahmad rahimahullah mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abul Mugirah, telah menceritakan kepada kami Safwan yang mengatakan bahwa para syekh mengatakan, "Apabila surat Yasin dibacakan untuk orang yang sedang menjelang kematiannya, maka Allah Swt. memberikan keringanan baginya berkat surat Yasin ini."

 قَالَ الْبَزَّارُ: حَدَّثَنَا سَلَمَةُ بْنُ شَبِيبٍ، حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ الْحَكَمِ بْنِ أَبَانٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ عِكْرِمَة، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "لَوَدِدْتُ أَنَّهَا فِي قَلْبِ كُلِّ إِنْسَانٍ مِنْ أُمَّتِي" -يعني: يس

Al-Bazzar mengatakan, telah menceritakan kepada kami Salamah ibnu Syabib, telah menceritakan kepada kami Ibrahim ibnu Hakim ibnu Aban, dari ayahnya, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa Nabi Saw. pernah bersabda: Sungguh aku menginginkan bila surat Yasin berada di dalam kalbu setiap orang dari umatku. Yakni surat Yasin dihafal oleh setiap orang dari umat Nabi Saw. بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Kembali 

Jumat, 22 Februari 2019

UMAT ISALM AKAN KEMBALI KEDALAM JAHILIYAH

Manusia Kembali “Jahil” dan Sembah Berhala

“Kemudian Allah mengirimkan angin yang dingin dari arah Siria, sehingga tidak tersisa di muka bumi seorang pun yang di dalam hatinya terdapat sebutir zarah kebaikan atau keimanan. Semuanya mati, bahkan kalau ada di antara mereka yang masuk ke dalam gunung, maka angin itu akan masuk kepadanya dan mencabut nyawanya.”
Abdullah ibn Amr berkata, “Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda, ‘Tinggallah orang-orang jahat dalam keringanan burung dan mimpi-mimpi binatang buas. Mereka tidak mengetahui kebaikan dan tidak menolak kemungkaran. Setan membuat peraturan dan berkata, “Apakah kalian akan patuh?” Mereka menjawab, “Apa yang Anda perintahkan?” Setan memerintahkan mereka untuk menyembah berhala. Pada waktu itu rezeki mereka berlimpah ruah dan kehidupan mereka sejahtera. Kemudian ditiuplah sangkakala’.”
Di antara berhala yang disembah adalah Dzulkhilshas, Thaghiyah Daus, Lata dan Uzza. Dalam shahih al-Bukahri diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Kiamat tidak akan terjadi sampai tangan dan kaki perempuan suku Daus menari dihadapan Dzuklkhilshas, yaitu berhala yang disembah di zaman Jahiliyah.”
Dalam shahih Muslim diriwayatkan bahwa Aisyah mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Malam dan siang tidak akan hilang sampai Lata dan Uzza disembah.”Aisyah berkata, “Ya Rasulullah saya menyangka ketika Allah SWT menurunkan ayat, ‘Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk dan agama kebenaran agar Dia memenangkannya atas semua agama, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukainya,’ maka itu telah selesai.”
Beliau bersabda, “Hal itu akan terjadi sesuai kehendak Allah, kemudian Allah mengembuskan angin yang sejuk, lalu meninggallah semua orang-orang yang dalam hatinya ada sebiji keimanan, dan tinggallah orang-orang yang tidak memiliki kebaikan. Mereka lalu kembali kepada agama leluhur meraka.”
Di zaman itu, akhlak akan menjadi sangat bejat. Al-Bazzar dalam Musnadnya dan Ibn Hibban dalam shahihnya meriwayatkan dari Abdullah ibn Umar bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Kiamat tidak akan terjadi hingga orang-orang bersenggema di jalan seperti keledai.” Abdullah ibn Umar bertanya, “Itu sungguh akan terjadi?” Beliau SAW menjawab, “Ya, itu sungguh akan terjadi.”
Hadis ini mempunyai penguat pada riwayat al-Hakim, yaitu sebuah hadits marfu’ dari Abu Hurairah: “Demi Dzat yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya, kiamat tidak akan terjadi hingga seorang laki-laki meniduri seorang wanita di jalanan. Orang yang paling baik saat itu adalah orang yang berkata, ‘Hai, mengapa tidak kamu lakukan di belakang tembok ini?’”
Hadis tersebut juga diperkuat oleh hadis an-Nawwas ibn Sam’an dalam hadisnya yang panjang tentang Dajjal serta Y’juz dan Ma’juz. Pada akhir hadis ini dikatakan, “Saat mereka dalam keadaan seperti itu, Allah mengirimkan angin yang sejuk yang berhembus di bawah ketiak mereka dan mengambil nyawa seluruh orang mukmin dan muslim. Tinggallah orang-orang jahat yang bersenggema seperti keledai. Pada merekalah kiamat terjadi,” (HR. Muslim, Ahmad dan al-Hakim). []

Selasa, 19 Februari 2019

HUKUM DZIKIR MEMAKAI TASBIH

Apa hukum memakai tasbih?
Teks Jawaban
Alhamdulillah
Sebagian ulama berpendapat dalam masalah ini dengan memperbolehkan penggunaannya disertai dengan pendapat bahwa bertasbih dengan tangan itu lebih utama. Sementara sebagian lainnya memasukkan dalam perkara bid’ah.
Syikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah dalam kitab Fatawa, 22/187 mengatakan: “Terkadang ada orang yang tampak meletakkan sajadah di lututnya dan tasbih di tangannya dan menjadikan hal itu sebagai syiar agama dan shalat. Telah diketahui secara mutawatir, bahwa Nabi sallallahu’alaihi wa sallam beserta para shahabatnya tidak menjadikan hal ini sebagai syiarnya. Dahulu mereka bertasbih dan menghitungnya dengan jari jemarinya sebagaimana dalam hadits,
وَأَنْ يَعْقِدْنَ بِالأَنَامِلِ فَإِنَّهُنَّ مَسْئُولاَتٌ مُسْتَنْطَقَاتٌ.
"Dan hitunglah dengan jari jemari, karena sesungguhnya (jari-jemari itu) akan ditanya dan akan berbicara." (HR. Abu Daud dan Tirmizi)
Boleh jadi ada yang bertasbih dengan kerikil atau biji. Bertasbih dengan tasbih sebagian orang ada yang menganggapnya makruh, di antara mereka ada yang meringankan (boleh). Akan tetapi tidak ada satupun yang mengatakan, ‘Bahwa bertasbih dengannya itu lebih baik daripada bertasbih dengan jemari atau lainnya."
Kemudian baliu rahimahullah berbicara tentang bab riya, "Bertasbih dengan tasbih termasuk riya dengan perkara yang tidak disyariatkan. Hal itu lebih buruk dibandingkan riya dengan perkara yang tidak disyariatkan."
Ada pertanyaan tentang bertasbih dengan menggunakan tasbih ditujukan kepada Fadhilatus Syekh Muhammad bin Utsaimin rahimahullah, Al-Liqa’ AL-Maftuh, 3/30. Apakah itu termasuk bid’ah?.
Beliau menjawab:
”Bertasbih dengan tasbih, ditinggalkan itu lebih utama dan bukan termasuk bid’ah. Karena ia ada asalnya yaitu sebagian shahabat bertasbih dengan menggunakan kerikil. Akan tetapi Rasul sallallahu alaihi wa sallam memberikan arahan, bahwa bertasbih dengan jemari itu lebih utama dengan mengatakan, ‘hitunglah –mengucapkan kepada para wanita- dengan jari jemari, karena ia (nanti) akan berbicara." Bertasbih dengan tasbih tidak termasuk haram juga tidak bid’ah. Akan tetapi ditinggalkan itu lebih utama, karena orang yang bertasbih dengan tasbih itu meninggallkan yang lebih utama dan terkadang orang yang memakai tasbih sedikit masuk penyakit riya. Karena kita saksikan sebagian orang memegang tasbih berisi seribu butir, seakan-akan mengatakan kepada orang ‘liihatlah saya bertasbih seribu kali tasbih’. Ketiga, orang yang bertasbih dengan tasbih seringkali hatinya lalai. Oleh karena itu kita jumpai dia bertasbih dengan tasbih sementara matanya melihat ke atas, ke kanan ke kiri. Yang menunjukkan lalai hatinya. Maka yang lebih utama seseorang bertasbih dengan jemarinya. Yang lebih utama menggunakan tangan kanan bukan kiri. Karena Nabi sallallahu’alaihi wa sallam biasanya ketika bertasbih biasanya menghitungnya dengan jari tangan kanan. Kalau bertasbih dengan memakai kedua tangan semuanya itu tidak mengapa. Akan tetapi yang lebih utama bertasbih dengan tangan kanannya saja."

Wallahuta’ala a’lam .

Jumat, 15 Februari 2019

Apakah dosa anak belum baligh di tanggung orangtuanya?

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Hukum asalnya, setiap orang bertanggung jawab atas dosa yang ia perbuat, dan seseorang tidaklah diwajibkan bertanggung jawab atas dosa yang diperbuat oleh orang lain. Dalam surat al-An’am ayat 164 Allah ta’ala berfirman:

قُلْ أَغَيْرَ اللَّهِ أَبْغِي رَبًّا وَهُوَ رَبُّ كُلِّ شَيْءٍ وَلا تَكْسِبُ كُلُّ نَفْسٍ إِلا عَلَيْهَا وَلا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَى ثُمَّ إِلَى رَبِّكُمْ مَرْجِعُكُمْ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ 

Katakanlah: "Apakah aku akan mencari Rabb selain Allah, Padahal Dia adalah Rabb bagi segala sesuatu. dan tidaklah seorang membuat dosa melainkan kemudharatannya kembali kepada dirinya sendiri; dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. kemudian kepada Rabb kalianlah kalian kembali, dan akan diberitakan oleh-Nya kepada kalian apa yang kalian perselisihkan."

Dalam suatu hadits disebutkan bahwa seorang anak tidaklah bertanggung jawab atas perbuatan dosa orang tuanya, begitu pula sebaliknya. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

لاَ يَجْنِى جَانٍ إِلاَّ عَلَى نَفْسِهِ لاَ يَجْنى وَالِدٌ عَلَى وَلَدِهِ وَلاَ مَوْلُودٌ عَلَى وَالِدِهِ

Tidaklah seseorang berbuat dosa kecuali menjadi tanggung jawabnya sendiri, tidaklah orangtua berbuat dosa menjadi tanggung-jawab anaknya dan tidak pula anak berbuat dosa menjadi tanggung jawab orang tuanya. HR. Tirmidzi no.2159 dan Ibnu Majah no.2669 dan yang lainnya. Dishahihkan oleh al-Albani

Oleh karena itu, bila seorang anak yang belum baligh berbuat perbuatan dosa maka ia tidak dicatat berdosa, begitu pula orang tuanya, kecuali bila orangtuanya sengaja tidak mendidiknya dengan baik sehingga anak tersebut berbuat dosa itu. Kala itu orang tuanya ikut bertanggung jawab karena anak itu berada dibawah tanggung jawab mereka. Allah ta'ala berfirman dalam surat at-Tahrim ayat 6:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلائِكَةٌ غِلاظٌ شِدَادٌ لا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ 

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan oleh-Nya kepada mereka dan mereka selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda terkait hal ini:

كُلُّكُمْ رَاعٍ فَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، فَالأَمِيرُ الَّذِي عَلَى النَّاسِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ، وَالمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ بَعْلِهَا وَوَلَدِهِ وَهِيَ مَسْئُولَةٌ عَنْهُمْ، وَالعَبْدُ رَاعٍ عَلَى مَالِ سَيِّدِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُ، أَلاَ فَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

"kalian semua adalah pemimpin, dan kalian akan ditanya tentang kepemimpinan kalian. Pemimpin di antara manusia dia akan ditanya tentang kepemimpinannya. Laki-laki adalah pemimpin bagi keluarganya dan dia akan ditanya tentang kepemimpinannya. Istri adalah pemimpin dalam rumah tangga serta anak-anak suaminya dan dia akan ditanya tentang mereka. Budak adalah pemimpin bagi harta tuannya dan dia akan ditanya tentangnya. Ketahuilah bahwa kalian adalah pemimpin dan kalian akan ditanya tentang tentang kepemimpinannya" HR Bukhari no.2554 dan Muslim no.1829 dan yang lainnya.

Apabila dosa yang dilakukan anak kecil itu berefek merugikan orang lain dilihat dari sisi finansial maka anak kecil itu bertanggung jawab (akan ditangani oleh walinya) meski ia tidak berdosa disebabkan perbuatannya itu. Ibnu Abdil Bar menerangkan:
Ulama' bersepakat bahwa anak kecil dan orang yang tidur bertanggung jawab atas kerusakan harta yang mereka perbuat. Mereka hanya dibebaskan dari dosa. Al-Istidzkar 8/50 

والله تعالى أعلم بالحق والصواب

ynaharits